“Wait For The Magic(com)?”
Malam telah gelap sempurna. Lampu gantung bergaya retro menyala hangat di dapur kecil minimalis. Cloudy sibuk dengan Shitake favoritnya Kaze. Sesekali ia bergumam kecil mengikuti The Supremes yang mengomel di speaker portable. Cloudy terlihat manis dengan celemek biru pastel yang menggantung manja ditubuhnya. Sementara Kaze terlihat serius memotong wortel.
“Bahkan motong wortel aja masih keliatan cakepnya,” goda Cloudy mengamati Kaze sambil mengangguk mantap.
“Kita mau masak apa sih ini?”
“Takikomi rice aja ya? Yang gampang.” Tanya Cloudy. Kaze mengangguk senang.
“Bikin miso sup juga ya, sayang,” tambah Kaze. Cloudy membalas dengan acungan jempol.
Setelah mengacungkan jempol, dengan sigap Cloudy memasukan beras yang sudah dicuci ke dalam rice cooker. Lalu, ia mulai meracik Tokikomi Rice didalamnya. Dimulai dengan menyusun satu persatu bahan yang sudah ia siapkan. Jamur Shitake yang sudah dipotong memanjang, wortel seukuran korek api hasil bantuan Kaze, dan terakhir kacang polong. Sebagai sentuhan terakhir, Cloudy menuangkan shoyu, garam, kaldu jamur, dan sedikit mirin non alkohol. Kazetidak mengkonsumsi alkohol sejak ia telah berusia legal untuk meminumnya.
Cloudy menutup rice cooker dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada satu bahan pun yang ketinggalan untuk ikut berenang didalam penanak nasi elektrik miliknya, dengan gerakan cepat ia menekan tombol cook.
“Now we wait for the magic!” kata Kaze bertepuk tangan. Ternyata dari tadi dia memperhatikan.
“Magic… Magic com kali ah,” Cloudy berdecak pelan.
“Pasta misonya kapan dimasukin?” Potong Kaze sebelum obrolan semakin tidak terkendali.
“Udah bisa kamu campurin ke panic, tapi larutin dulu, ya. Jangan langsung di cemplungin ke panic.”
“Tolong potong tofunya, terus masukin ke panci. Ini sekalian rumput laut keringnya dimasukin juga,” Cloudy mengulurkan satu bungkus rumput laut kering pada Kaze.
Setelah membantu memasak miso sup, Kaze bergegas menata peralatan makan di meja kayu di sudut dapur. Cloudy meletakkan satu persatu masakan yang sudah jadi.
“Itadakismasu,” ucap mereka kompak.
Cloudy menatap Kaze seksama yang mulai menyuap nasi ke mulutnya. Menunggu kalimat yang keluar dari bibir tipis milik Kaze.
“Kamu nungguin aku bilang sesuatu?” tanyanya jahil. Cloudy hanya menggangguk pelan.
“Nanti aku kirim lewat line chat aja komentarnya,” kata Kaze sambil menjulurkan lidah. Ekspresinya sangat menyebalkan. Cloudy memukul punggung tangan Kaze dan memajukan bibirnya kesal.
Daripada makin sebal dengan kelakuan Kaze, Cloudy memutuskan mencicipi sendiri Takikomi rice-nya. Cloudy melebarkan matanya, mentap ke arah Kaze yang sudah cengar cengir menunggu komentar Cloudy.
“Eh? Berhasil. Ini enak banget!” serunya setengah melotot.
“Iya kan… Aku sampai bingung mau bilang apa waktu kamu tanya enak apa nggak.”
Cloudy Cuma mengangguk.
“Makasih ya, udah bikin makanan yang enak. Lambung sampai bilang dia bahagia,” tambah Kaze sambil mendekatkan telinga ke arah perutnya seolah Lambung benar-benar bicara padanya
Lalu, mereka berdua melakukan highfive bersama dan melanjutkan makan dengan tenang.
~***~
Malam semakin tenang. Jendela dapur dibuka, angin musim panas berhembus pelan memenuhi setiap sisi dapur malam itu.
“Penutup,” kata Cloudy menyodorkan es krim vanilla kesukaan Kaze.
Kaze beranjak dari sofa ruang tengah dengan lampu kecil temaram di sudut ruangan. Speaker portable masih menyala, suara lembut milik Sade menyapa manis melalui lagunya berjudul By Your Side.
“Kamu inget nggak dulu kamu pernah ngasih aku puisi?”
“Yang mana?” Tanya Cloudy bingung.
“Waktu kita pacaran dulu lho. Puisi rambut kusut,” Kaze terkekeh mengingatnya.
“Oh, yang Rambutmu seperti kabel charger, kusut tapi tetap aku butuhkan untuk tetap hidup,” Cloudy mengulang sedikit bait dari puisi yang pernah dia buat.
Kaze tertawa lepas, “Aku anggap itu karya masterpiece. Satu-satunya puisi yang bisa bikin aku ketawa dan terharu dalam waktu bersamaan.”
“Menurut kamu kita lebih lucu dulu apa sekarang?” Tanya Cloudy dengan isi kepala penuh kerandoman.
“Dulu, kita kayak dua orang clueless yang sok romantis. Kalau sekarang, dua orang… Eh, nggak. Dua alien aneh yang udah punya planet sendiri..”
“Jadi, kamu pilih mana?”
“Yang sekarang. Karena aku bisa peluk kamu tiap hari tanpa takut dosa.”
“Apaan sih, Ze.” Kata Cloudy sambil menyumpal mulut Kaze dengan satu sendok es krim matcha miliknya.
Setelah menikmati es krim dan obrolan ringan. Cloudy tiba tiba bersandar pada dada Kaze. Meringkuk dalam dekapan laki-laki kebanggaannya. Tangannya melingkar santai di pinggang Kaze. Cloudy memang suka tiba-tiba manja dengan waktu yang tidak bisa di prediksi, bahkan Kaze sendiri.
Cloudy mendongak menatap wajah Kaze dengan jarak yang sangat dekat, “Makasih ya, selalu jadi tempat aku pulang.”
Kaze hanya tersenyum, merangkulkan lengannya di bahu Cloudy. Lalu mengecup pelan keningnya.
Cloudy bergeming. Menatap mata Kaze penuh perhatian
“Aku besok mau jadi jeruk.” Katanya tiba-tiba.
“Udah ah, lagi romantis juga.” Protes Kaze. Cloudy tertawa.
Tak selang berapa lama mengobrol, Cloudy terlelap dalam dekapan Kaze.
“Bisa-bisanya ketiduran. Orang lagi ngobrol,” gumam Kaze. Ia mengamati setiap inci kontur wajah Cloudy, rambut sebahunya terurai indah. Kaze menatap bibir mungil dan penuh milik Cloudy. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya teratur, lalu Kaze memiringkan sedikit kepalanya.
| Properti milik Ndep |
Cloudy bergumam pelan, “Keteknya.. shining.. shimmering..”
“splendid,” ujar Kaze berbarengan dengan suara Cloudy yang keluar sangat pelan.
Kaze menahan ketawanya agar tidak meledak. Lalu mendekap tubuh mungil Cloudy erat.
~ There must have been an angel by my side...
Sade mulai berisik di ruang tengah.
~ Something heavenly led me to you
Look at the sky, it’s the colour of love~
Lagu Kiss of Life sepenuhnya menguasai semua perasaan malam itu. Kenyamanan hati, jiwa yang lengkap, dan dekapan hangat. Cukup untuk sepasang manusia mencintai satu sama lain. Dalam setiap baik dan buruk hari yang mereka hadapi. Dengan segala kurang dan lebihnya mereka. Cinta akan terus diusahakan bersama hingga taman hidupnya tetap mekar dan penuh kasih.
-TAMAT-

Komentar
Posting Komentar