 |
Properti milik Ndep |
Angin musim panas berembus dari arah timur,
membawa wangi Lavender di taman kecil milik Cloudy dan Kaze. Di teras belakang
rumah, Cloudy duduk di kursi rotan dengan balutan sleeveless crop top warna
lemon, dipadukan celana putih selutut. Warna kulitnya yang putih terlihat
hangat diterpa cahaya matahari musim panas sore itu.
Rambut Cloudy dicepol asal,
meninggalkan beberapa helai rambut tipis di tengkuknya, membuat Kaze
tersenyum setiap kali menoleh ke arah Cloudy yang sibuk mengunyah
semangka sambil tertawa. Kaze cukup kasual, sangat manis dengan baju musim
panasnya yang terdapat lubang kecil diseluruh bajunya yang berwarna putih gading
dengan celana pendek selutut warna krem.
Cloudy tiba-tiba berhenti mengunyah, menatap Kaze dalam.
“Aku suka banget deh lihat ketek kamu,” katanya tiba-tiba dengan
wajah serius, membuat Kaze tersedak soda yang ia minum.
“Serius! Keliatan clean,
lucu, kayak…” Cloudy diam sebentar seolah memikirkan kata yang pas untuk
melanjutkan.
“Kayak ketek cowok sehat!” selorohnya, lalu ia tertawa
karena ucapannya sendiri.
“Tahu nggak? Kamu satu-satunya orang yang bilang gitu ke
aku,” kata Kaze disela tawanya yang manis.
“Jangan pernah remehin the
power of keteknya kamu, ya.”
Kaze tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Cewek
ajaib.”
Angin bertiup pelan, Otis Redding belum lelah melantunkan
nada (Sittin’ On) the Dock of the Bay.
Cloudy memainkan cepol rambutnya. Mata coklat itu memantulkan cahaya sore,
sementara helai rambut tipis di tengkuk Cloudy sukses membuat Kaze tersenyum
pelan.
“Kamu tahu nggak bagian terseksi dari kamu?” Bisiknya.
“Apa? Mata? Bibir? Atau amandel aku?” Jawab Cloudy cuek
sambil meyuap jeruk.
“Tengkuk yang ada sisa rambutnya itu. Dan… ekspresi kamu pas
ngeliatin ketek aku.”
“Sialan! Masih dibahas juga ketek kesayanganku.”
Cloudy tertawa lepas
Udara makin lembut, mentari turun
pelan di balik atap tetangga, dan dedaunan bergoyang ringan. Cloudy bersandar
di bahu Kaze, duduk bersila di kursi rotan. Piring berisi buah hampir habis.
Tapi daun mint yang dipetik Cloudy
minta perhatian lebih.
“Nih, kamu jadi salad.” Kaze menyelipkan daun mint di
telinga Cloudy.
“Masa iya salad. Pedes dong sayang saladnya pake mint.”
Kaze tertawa ringan, sementara Cloudy
memperhatikan Kaze. Bahunya yang terbuka, terlihat maskulin. Tiba-tiba Cloudy
menggigit bahu Kaze.
“Mirip buah naga!” Cloudy tertawa lebar, giginya
yang putih dan rapi membuatnya terlihat imut. Kaze mencubit pipi Cloudy gemas.
Angin kembali menyapa rambut
Cloudy. Beberapa helai turun ke wajahnya yang mungil. Kaze dengan sigap
merapihkan rambut hitam kecoklatan gadis mungil disampingnya.
“Kalau kamu jadi buah, pengin jadi apa?” Kaze melempar pop quiz.
“Semangka lah! Sejuk, rame, manis,” jawab Cloudy enteng.
“Aku tahu kamu bakal jawab gitu. Makanya sekarang aku pengin
jadi kulkas biar bisa nyimpen kamu terus buat diri aku sendiri.”
“Kamu kalau jadi buah?” Tanya Cloudy menyentuh ujung hidung
Kaze.
“Hm.. Anggur kayaknya. Kecil tapi bahaya kalo kelamaan
disimpen.”
“Kamu emang memabukkan, sih.” Kata Cloudy yang
memikirkan Anggur menjadi wine.
“Aku suka lihat kamu di jam segini.”
“Golden Hour, ya?”
Cloudy memastikan.
“Kamu kayak mimpi yang bikin aku nggak mau bangun lagi,”
lanjut Kaze mengelus pipi Cloudy dengan punggung tangannya.
“Aku seneng tetap bisa jadi diri sendiri. Dari
kita pacaran sampe sekarang udah terikat perjanjian sakral yang disebut
pernikahan, aku tetap bisa menjadi warnaku tanpa pengin kamu ubah warnanya. Aku bisa bilang hal random apapun yang ada dikepalaku tanpa takut.
Hari ini rasanya… lengkap.” Cloudy menoleh menatap Kaze, “Rumah, buah, angin,
dan kamu.”
“Ketekku?”
“Pastinya!”
Mereka tertawa bersama semangka, strawberry, kiwi, dan
kawan-kawannya.
Langit semakin gelap, lampu-lampu taman berukuran kecil menyala
satu persatu. Tapi mereka berdua belum mau beranjak dari kursi rotan berwarna
krem itu. Mereka seolah menemukan arti tenang. Duduk, menikmati manisnya buah, dan menertawakan
lelucon yang cuma mereka berdua yang mengerti. Layaknya musim panas, sore itu
terasa hangat, cerah, absurd, tapi
nggak pengin cepet selesai.
~***~
Komentar
Posting Komentar